Kamis, 13 Desember 2012

PERISTIWA TUTUR DAN TINDAK TUTUR

PERISTIWA TUTUR DAN TINDAK TUTUR

Dalam setiap proses komunikasi manusia komunikasi ini terjadilah apa yang disebut peristiwa tutur dan  tindak tutur dalam satu situasi tutur.
1.1  Peristiwa Tutur
Yang dimaksud dengan peristiwa tutur adalah terjadinya atau berlangsungnya interaksi linguistik dalam satu bentuk ujaran atau lebih yang melibatkan dua puhak yaitu penutur dan lawan tutur, dengan satu pokok tuturan, di dalam waktu, tempat,dan situasi tertentu. Jadi, interaksi yang berlangsung antara seorang pedagang  dan pembeli  dipasar pada waktu tertantu dengan menggunakan sebgai alat komunikasinya adalah peristiwa tutur.
Dikatakan oleh Deli Hymes ( 1971), seorang pakar sosiolingustik terkenal, bahwa suatu peristiwa tutur harus memenuhi delapan komponen, yang bila huruf-huruf pertamya dirangkaikan menjadi akronim SPEAKING. Kedelapan komponen itu adalah ( diangkat dari Wadhaugh 1990):
1.      S = setting and scene. Berkenaan dengan waktu dan tempat tutur berlangsung, sedangkan scene mengacu pada situasi tempat dan waktu, atau situasi psikologis pembicaraan.
2.      P = participants. Pihak-pihak yang terlibat dalam penuturan, bisa pembicara dan pendengar, penyapa dan yang disapa, atau pengirim dan penerima pesan.
3.      E = ends; purpose and goal. Merujuk pada maksud dan tujuan penuturan. Peristiwa yang terjadi di ruang pengadilan bermaksud untuk menyelsaikan suatu kasus perkara.
4.      A = act sequencesmengacu pada bentuk tujuan ujaran dan isi ujaran.
5.      K = key; tone or spirit of actmengacu pada nada, cara, dan semangat dimana atau pesan yang disampaikan dengan senang hati, dengan serius, dengan singkat dan sebagainya.
6.      I = instrumentalitiesmengacu pada jalur bahasa yang digunakan, seperti jalur lisan, tulisan, melalui telegraf atau telepon.
7.      N = norms of intraction and interpretasion. Mengacu pada norma atau aturan dalam berinteraksi.
8.      G = genres. Mengacu pada jenis bentuk penyampaian, seperti narasi, puisi, pepatah, doa dan sebagainya.
1.2  Tindak Tutur
Kalaudalamperistiwatuturlebihdilihatpadatujuanperistiwanya, tetapidalamtindaktuturlebihdilihatpadamaknaatautindakandalamtuturannya.Tindakantuturdanperistiwatuturmerupakanduagejala yang terdapatpadasatu proses, yakni proses komunikasi.

Istilahdanteorimengenaitindaktuturmula-mula di perkenalkan J.L. Austin, seorang guru besar di Universitas Harvard, padatahu 1956, teori yang berasaldarimaterikuliahitukemudiandibukukanolehUrmson (1965) denganjudul How to do thing with word?
Menuruttatabahasatradisionalada 3 jeniskalimatyaitu:
1)      Kalimatdeklaratifadalahkalimat yang isinyahanyamemintapendengaratau yang mendengarkalimatituuntukmenaruhperhatiansaja, tidakusahmelakukanapa-apasebabmaksudsipengujarhanyauntukmemberitahukansaja.
2)      Kalimatinterogatifadalahkalimat yang isinameminta agar pendengaratau orang yang mendengarkalimatituuntukmemberijawabansecaralisan.
3)      Kalimatimperatifadalahkalimat yang isinyameminta agar sipendengaratau yang mendengarkankalimatitumemberitanggapanberupatindakanatauperbuatan yang diminta. .
Pembagiankalimatataskalimatdeklaratif, interogratifdanimperatifadalahberdasarkanbentukkalimatitusecaraterlepasartinyakalimatdilihatataudipandangsebagaisatubentukkeutuhantinggi.Kalaukalimatataukalimatitudipandangdantataranlebihtinggi, yaknidaritingkatwacana, makakalimat-kalimattersebutdapatsajamenjaditidaksamaantarabentukformalnyadenganbentukisinya.
Austin (1962) membedakankalimatdeklaratifberdasarkanmaknanyamenjadikalimatkonstatifdankalimatperformatif, yang dimaksuddengankalimatkonstatifadalahkalimat yang berisipernyataanbelaka.Seperti “ibudosen kami cantiksekali” sedangkan yang dimaksuddengankalimatperformatifadalahkalimat yang berisiperlakuan.Artinya, apa yang diucapkanolehsipengujarberisiapa yang dilakukannya.
Kalimatperformatifdapatdigunakanuntukmengungkapkansesuatusecaraeksplisitdanimplisit.Secaratindakaneksplisitartinyadenganmenghadirkan kata-kata yang mengacupadapelakusepertisayaatau kami.Sedangkankalimatperformatif yang implisitadalah yang tanpamenghadirkan kata-kata yang menyatakanpelaku.Misalnya: “jalanditutup”
Austin, (1962: 150-163)membagikalimatperformatifmenjadi 5 kategori, yaitu:
1.      Kalimatverdiktif (inggris; verdictives) yaknikalimatperlakuan yang menyatakankeputusandanpenilaian.
2.      Kalimateksertif (inggris: exercitives)yaknikalimatperlakuan yang menyatakanperjanjian, nasihat, peringatandansebagainya.
3.      Kalimatkomisif (inggris: commissives) adalahkalimatperlakuan yang dicirikandenganperjanjian.
4.      Kalimatbehatitif (inggris: behatitives) adalahkalimatperlakuan yang berhubungandengantingkahlakusosialkarenaseseorangmendapatkankeberuntunganataukemalangan.
5.      Kalimatekspositif (inggris: expositives) adalahkalimatperlakuan yang memberipenjelasan, keterangan, atauperinciankepadaseseorang.
Tindaktutur yang dilangsungkandengankalimatperformatifolehAustin (1962:100-102) dirumuskansebagaitipeperistiwatindakan yang berlangsungsekaligus
1.      Tindaktuturlokusi (adalahtindakan yang menyatakansesuatudalamarti “berkata”  atautidaktuturdalambentukkalimat yang bermaknadandapatdipahami.
2.      Tindaktuturilokusiadalahtindaktutur yang biasanyadiidentifikasikandengankalimatperformatif yang eksplisit.
3.      Tindaktuturperlokusiadalahtindaktuturyang berkenandenganadanyaucapan orang lain sehubungandengansikapdanperillakunonlinguistikdari orang lain itu.

Kalaudilihatdarikontekssituasinyaada 2 macamtindaktutur ,tindaktuturlangsungdantindaktuturtidaklangsung. Tindaktuturlangsungmudahdipahamiolehsipendengarkarenauraiannyaberupakalimat-kalimatdenganmaknalugas.Tindaktutur yang tidaklangsunghannyadapatdipahamiolehsipendengar  yangcukupterlatihdalammemahamikalimat-kalimat yang bermaknakontekssituasional.


1.3  Tindak Tutur dan Pragmatik
Tindaktutursebenarnyamerupakansalahsatufenomenadalammasalah yang lebihluas, yang dikenaldenganistilahpragmatikfenomena lain dalamkajian pragmatic adalahdeiksispresuposisidanimplikaturpercakapan.

      Konseppragmatik (menelaahhubunganlambangdenganpenafsirannya) makaapabedanyapragmatikitudengan semantic, keduanyamemangmenelaahtentangmakna, namun, kalau pragmatic menelaahmaknamenuruttafsiranpendengar, maka semantic menelaahmaknadalamhubunganantaralambang(satuan-satuanujaran) denganobjeknyaataureferennya.

      Yang dimaksuddengandeiksisadalahhubunganantara kata yang digunakandidalamtindaktutur.Yang dimaksuddenganpresupsisidalamtindaktuturadalahmaknaatauinformasi “tambahan” yang terdapatdalamujaran yang digunakansecaratersirat.

      Presuposisiterdapat pula dalamkalimatdeklaratifdankalimatinterogatif.Misalnya, dalamkalimat “yang belumluusujian linguistic umumtidakbolehmengikutikuliahsosiolinguistik.”

      Menurutpurwo (1990) preposisiinidapatjugadigunakanuntukmenelitiperbedaancirisemantikverba yang satudenganverba yang lain.Yang dimaksuddenganimplikaturpercakapanadalahadanyaketerkaitanantaraujaran-ujaran yang diucapkanantaradua orang yang sedangbercakap-cakap.










DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. 2010. Sisiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta:    Rineka Cipta.


1 komentar:

  1. Slot machines, machines, art, and culture - DeduCasino
    Explore the most 메리트카지노총판 engaging deccasino casino gaming floor online. Discover the newest in the world of slot machines, casino games, & more. 샌즈카지노

    BalasHapus